Udara malam di areal lapangan sepak bola Desa Kelanga, Selasa (4/8/2026), mendadak riuh. Gelak tawa warga pecah bersahutan, mengalahkan heningnya malam. Di tengah suasana penutupan turnamen domino tersebut, perhatian masyarakat justru tersedot secara magis pada satu meja.
​Bukan karena ada tumpukan uang juta’an rupiah yang dipertaruhkan. Bukan pula demi sebuah trofi emas. Ini adalah laga Ekshibisi sebuah tradisi, sekaligus pembuktian gengsi.
​Di satu sisi meja, duduklah sang kampiun. Sebagai juara turnamen yang baru saja menaklukkan banyak peserta, ia tentu datang dengan dada membusung dan rasa percaya diri yang tidak perlu diragukan lagi. Namun, malam itu, lawannya bukanlah sembarang pemain.
​Di seberangnya, duduk dengan tenang, adalah sosok yang sudah sangat dihormati: Raja Mustakim.
​Lebih dari Sekadar Permainan
​Bagi para pecinta domino di Natuna, nama Raja Mustakim adalah sebuah fenomena. Ia bukan sekadar pemain andal, melainkan tokoh sentral di balik menggeliatnya komunitas domino di daerah tersebut. Melalui wadah Komunitas Pecinta Domino Natuna (KPDN) yang ia dirikan, domino perlahan naik kelas.
​Dari yang semula hanya dipandang sebagai permainan usir bosan di waktu luang, kini dikemas apik menjadi jembatan silaturahmi. Meja-meja domino berubah menjadi ruang tanpa sekat. Di sana, masyarakat biasa, tokoh pemuda, hingga para jawara melebur menjadi satu.
​Namun, ada satu “tradisi tak tertulis” yang selalu dinanti-nantikan di setiap akhir turnamen: sang juara harus melewati ujian terakhir dengan berhadapan langsung melawan Raja Mustakim. Di sinilah cerita-cerita epik biasanya lahir.
​Tragedi “Apollo” Sang Juara
​Saat kepingan domino mulai dibanting satu per satu ke atas meja, warga yang semula duduk bersantai perlahan merangsek maju. Lingkaran penonton semakin rapat. Semua mata tertuju pada permainan.
​Ketegangan yang sempat menyergap seketika runtuh. Pasangan Raja Mustakim malam itu bermain layaknya maestro, membuat sang juara turnamen tak berkutik. Puncaknya, sang juara harus menelan pil pahit bernama “Apollo” sebuah istilah lokal yang legendaris ketika seorang pemain kalah telak tanpa berhasil mencetak satu pun nilai.
​Sontak, tawa dan sorak-sorai warga meledak di tengah lapangan. Tak ada unsur ejekan atau niat merendahkan. Tawa itu murni lahir dari keakraban yang kental.
​”Juara turnamen pun bisa keok!” celetukan bernada canda itu mengalir dari kerumunan, memicu derai tawa yang semakin panjang. Sang juara pun hanya bisa ikut tersenyum lebar, mengakui kehebatan sang lawan.
​”Domino bukan semata-mata tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang bagaimana sebuah permainan sederhana mampu membuat banyak orang duduk bersama, tertawa bersama, dan menjaga persaudaraan.” Raja Mustakim, Ketua Dewan Kehormatan KONI Natuna.
​Menang di Turnamen, Diuji di Meja Raja
​Bagi Raja Mustakim, pertandingan malam itu tak pernah sekadar soal menang atau kalah. Semangat utama yang ia tiupkan melalui KPDN adalah membangun persaudaraan.
​Hal inilah yang mendasarinya rela merogoh kocek pribadi hingga puluhan juta rupiah untuk menyokong berbagai turnamen. Uang tersebut tidak ia pandang sebagai hadiah semata, melainkan investasi sosial agar masyarakat memiliki ruang positif untuk berkumpul dan merawat kebersamaan.
​Bagi para peserta, membawa pulang piala kemenangan belumlah terasa paripurna jika belum duduk berhadapan dengan sang Raja. Dan meski cerita yang beredar hampir selalu bermuara pada kekalahan bahkan langganan terkena “Apollo” tak ada satupun rasa bangga yang luntur dari para juara.
​Malam itu, di bawah riuh suara warga dan denting kepingan batu domino, Desa Kelanga kembali menjadi saksi. Sang juara memang menelan kekalahan. Namun dari atas meja sederhana itu, lahir sebuah cerita yang jauh lebih indah dari sekadar kemenangan.
​Sebuah pengingat bahwa dalam permainan kehidupan, seorang juara boleh saja kalah. Namun di balik kekalahan itu, selalu ada tawa, persahabatan, dan kehangatan yang tak akan pernah bisa dibeli. Sang juara boleh merajai turnamen, tetapi di meja Raja, selalu ada cerita yang berbeda.
