Natunews.com – Bupati Natuna Provinsi Kepulauan Riau, Cen Sui Lan tak ingin permainan tradisional warga Natuna, gasing hilang tertelan modernisasi. Untuk itu, Bupati Cen mendukung gasing untuk dilestarikan sebagai permainan jati diri khas warga Natuna.
Bupati Cen tahu betul bahwa permainan gasing merupakan warisan leluhur yang sarat nilai moral dan sosial. Namun tentu menghadapi ancaman serius dari modernisasi yang menyebabkan penurunan minat terutama di kalangan generasi muda. Permainan tradisional ini bisa saja tergeser oleh permainan modern berbasis teknologi, seperti permainan komputer dan gadget, yang lebih menarik bagi anak-anak dan remaja.
“Budaya gasing adalah jati diri daerah. Jangan hilang tertelan oleh zaman dan modernisasi,” ujar Bupati Cen. Bupati Cen pada Selasa (11/10/2025) menghadiri Lomba Permainan Gasing Antarkecamatan di Natuna, sekaligus menutup lomba tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-26 Kabupaten Natuna.
Penutupan lomba berlangsung di Lapangan Gasing Jalan H. Adam Malik, Air Batu, Kecamatan Bunguran Timur. Sorak-sorai penonton menggema memenuhi arena permainan. Puluhan komunitas gasing setempat ikut menyemarakkan lomba untuk memerebutkan gelar juara. Turut hadir bersama Bupati Cen, Ketua DPRD Natuna Rusdi, unsur TNI–Polri, anggota legislatif, serta tokoh masyarakat.
Bupati Cen malihat bahwa permainan gasing melatih sportifitas, disiplin, kerja sama tim, dan rasa percaya diri. Nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam permainan gasing, dinilainya sejalan dengan upaya Pemkab Natuna saat ini untuk membangun dan mengembangkan SDM serta perekonomian masyarakat.
Ia mengajak kepada para peserta lomba untuk menjadikan kemenangan sebagai motivasi, sedangkan jika kalah dijadikan pelajaran. Yang tak kalah pentingnya, silaturahmi dan persaudaraan antarkecamatan serta antar masyarakat Natuna bisa terjalin melalui permainan gasing.

Sejarah Gasing di Natuna
Permainan gasing sudah dikenal dan dimainkan oleh masyarakat Natuna sebagai hiburan dan ajang persaingan. Gasing Natuna, yang dibuat dari kayu keras khas seperti Kayu Pelawan dan Kayu Sentigi, adalah bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat Natuna, terutama dimainkan oleh kaum lelaki mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Mengutip situs Dinas Pariwisata Natuna, permainan gasing ini dikenal dengan istilah Pangkak Gasing, yang melibatkan dua tim saling berebut kemenangan melalui berbagai tahapan seperti betendin (memutar gasing bersama-sama), pangkak (menyerang gasing lawan), dan ber’ulet (mempertahankan putaran gasing). Permainan ini tidak hanya sekadar hiburan tapi juga mengandung nilai strategi, kekuatan, kebersamaan, dan kejujuran yang menjadi bagian dari kearifan lokal dan nilai tradisi yang dijaga turun temurun.
Selain menjadi hiburan di masa lalu, gasing juga sering dilombakan dalam acara-acara budaya dan festival seperti Funtouristic Festival di Natuna. Pemerintah daerah setempat juga aktif menjaga kelestarian permainan ini dengan menjadikan arena permainan gasing sebagai objek wisata budaya dan mengadakan turnamen secara rutin.
Cerita dan semangat permainan gasing harus dilestarikan agar tetap hidup sebagai simbol budaya lokal Natuna. (nn1)
